29 Januari 2010

Q.S. Al-Alaq ( 96 ) Ayat 1-5

BAB I
PENDAHULUAN

Al-Qur’an merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah SWT dan akan tetap terpelihara. Kandungan Al-Qur’an mendidik umat manusia untuk menjadi lebih baik. Jika ayat-ayat Al-Qur’an digali dan ditafsirkan dengan luas, maka di dalamnya sarat dengan pesan-pesan bernuansa edukatif yang bias dijadikan pedoman hidup bagi umat manusia.
Ilmu Pendidikan islam idealnya dibangun melalui konseptualisasi dan teoritisasi nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits . Nilai-nilai dasar Al-Qur’an mencakup segala aspek kehidupan manusia secara utuh dan komprehensif, termasuk dalam bidang pendidikan. Tema-tema pokoknya meliputi aspek ketuhanan, manusia sebagai individu dan social, alam semesta, kenabian, wahyu, dan makhluk-makhluk spirituan. Eksistensi, orisinalitas dan kebenarannya dapat dibuktikan oleh sains modern. Sedang tuntunannya adalh rahmat bagi semesta alam, dan tujuannya adalah kebahagiaan dunia dan akherat.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Falsafah Dasar “Iqra” ( Membaca )
Al-Qur’an Memerintahkan kepada umat islam untuk belajar, sejak ayat pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Allah berfirman :



Artinya :
“ Bacalah dengan ( menyebut ) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar ( manusia ) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. ( QS. Al-‘Alaq ( 96 ) : 1 – 5 )
Perintah untuk membaca dalam ayat ini disebut dua kali. Perintah pertama ditujukan kepada Rasulullah SAW, dan perintah kedua ditujukan kepada seluruh umatnya. Mungkin mengherankan bahawa perintah tersebut ditujukan pertama kali kepada seorang yang tidak pernah membaca suatu kitab sebelum turunnya Al-Qur’an. Namun keheranan ini akan sirna jika disadari arti iqra’ dan disadari pula bahwa perintah ini tidak hanya ditujukan kepada pribadi Nabi Muhammad SAW semata, tetapi juga untuk umat manusia sepanjang sejarah manusia. Karena realitas perintah tersebut merupakan kunci pembuka jalan kebahagiaan kehidupan duniawi dan ukhrawi.
Kata iqra’ yang terambil dari kata qara’a pada mulanya berarti “ menghimpun “. Dalam bahasa Al-Qur’an, qara’tahu qiraatan. Arti asal kata ini menunjukkan bahwa iqra’, yang diterjemahkan dengan “ bacalah “ tidak mengharuskan adanya suatu teks tertulis yang dibaca, tidak pula harus diucapkan hingga terdengar oleh orang lain. Karenanya terdapat beraneka ragam arti dari kata tersebut antara lain : menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri dan sebagainya.Yang kesemuanya dapat dikembalikan kepada hakikat “ menghimpun “ yang merupakan arti akar kata tersebut ( iqra’ ).
Iqra’ ! , demikian perintah Allah yang disampaikan oleh Jibril. Tetapi apa yang harus dibaca ? demikian pertanyaan Nabi dalam suatu riwayat. Setelah berulang-ulang Jibril menyampaikan QS. Al-‘Alaq : 1-5 tersebut sambil merangkul Nabi.
Dari redaksi wahyu pertama ini tidak ditemukan penjelasan tentang objek membaca, sehingga banyak ragam pendapat para ahli tafsir dalam menentukan objek membaca.
2. Perintah Belajar dengan Membaca
Membaca adalah sarana untuk belajar dan kunci ilmu pengetahuan, baik secara etimologi berupa membaca huruf-huruf yang tertulis dalam buku-buku maupun terminologi yakni membaca dalam artian yang luas. Maksudnya, membaca alam semesta ( ayat kauniyah ). Seperti diungkapkan dalam sebuah syair,


Bacalah isyarat alam semesta yang diciptakan untukmu.
Niscaya akan kamu dapatkan sesungguhnya selain Allah adalah batil.

Perintah membaca, menelaah, memeliti dan sebagainya dikaitkan dengan “ bi ismi Rabbika “ ( dengan nama Tuhanmu “ ). Pengaitan ini merupakan syarat yang mesti dipenuhi bagi pembaca untuk tidak sekedar melakukan bacaan dengan ikhlas, tetapi harus memilah dan memilih bahan-bahan bacaan yang tidak mengantarkannya kepada hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah.
Perintah membaca kedua dirangkaikan dengan “ warobbuka al-akram “. Ayat ini memberikan dorongan kepada manusia untuk selalu meningkatkan minat baca. Dalam hal ini mengandung pengertian bahwa Dia ( Allah ) dapat menganugerahkan puncak dari segala yang terpuji bagi semua hamba-Nya yang membaca. Allah menjanjikan kepada setiap orang yang membaca dengan tidak melupakan asma Allah dengan keluasan ilmu pengetahuan, pemahaman-pemahaman, wawasan-wawasan baru walaupun yang dibaca hanya itu-itu saja.
Apa yang dijanjikan ini telah terbukti secara jelas dalam membaca ayat Al-Qur’an. Yaitu dengan adanya penafsiran-penafsiran baru atau pengembangan berbagai pendapat dari yang telah ditelaah sebelumnya. Hal ini terbukti pula dengan sangat jelasnya dalam “ Pembacaan “ alam raya ini, dengan bermunculannya penemuan-penemuan baru yang membuka rahasia-rahasia jagat raya.
Selanjutnya terdapat “ kalam “ disebut dalam ayat ini lebih memperjelas makna hakiki membaca yaitu sebagai alat belajar. Dengan belajar sesorang mendapatkan ilmu. Dengannya pula ilmu dapat ditransfer dari individu ke individu, dari generasi ke generasi atau dari umat ke umat lainnya.
3. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Belajar.
a. Sarana Mencari Ilmu.
Telah kita ketahui bersama bahwa mencari ilmu hukumnya wajib dan berbekal, menyediakan sarana dan prasarana dalam mencarinya juga menjadi wajib.
Ada tiga syarat pokok dalam mencari ilmu sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Qur’an, yaitu sebagai berikut :
1) As-sam’u, yakni pendengaran, merupakan asas ilmu dan pertamakali sarana pada masa penurunan wahyu, penyampaian ilmu ( ayat ) kepada para sahabat, hingga pada zaman kita sekarang.
2) Al-bashar. Yakni penglihatan, adalah asas ilmu pengetahuan yang sangat dibutuhkan untuk mengamati, meneliti sesuatu dan mencobanya.
3) Al-fuad / qolbu, yakni hati. Sarana ini adalah paling penting yang harus dimiliki oleh pencari ilmu.
b. Mendatangi Sumber Ilmu
Salah satu cara belajar adalah menghadap kepada guru dengan jalan mendengar dan menirukan serta hadir di majelisnya. Berkaitan dengan ini Al-Qur’an mengatakan bahwa jangan sampai suatu kaum itu pergi ke medan perang semua, tetapi harus ada yang ditinggal untuk mencari ilmu dan memperdalamnya serta mengamalkannya dengan jalan mengajarkan kepada orang lain.
Dalam hal ini para salafus shalih mensyaratkan dalam mencari ilmu hendaklah mendatangi para ulama dan hadir dalam majelis-majelis ilmu. Tidak cukup hanya dengan membaca buku-buku tanpa menghadap langsung. Karena apabila ada kesalahpahaman para ulama bisa menerangkan dan meluruskannya. Para salafus shaleh dalam proses belajarnya selalu berupaya untuk menambah ilmu. Mereka tidak pernah berhenti walaupun tingkat keilmuannya dimata umum telah mencapai titik teratas dan mereka telah memasuki usia senja. Bahkan semakin bertambah ilmu yang diraih semakin besar keinginan mereka untuk meraih lebih banyak lagi. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda :

Artinya :
Dua tipe manusia yang tidak akan menemukan kepuasan : pencari ilmu dan pencari dunia “.
Imam Syafi’I menulis syair berikut :


Semakin terdidik oleh zaman semakin terlihat kurangnya akal pikiranku.
Dan merasa bertambahnya pengetahuanku semakin kuketahui kebodohanku.
Apabila dalam mempelajari ilmu ada suatu pertanyaan maka harus ditanyakan kepada pakarnya agar tidak terjadi kesalahan pemahaman. Kita tidak boleh membiarkan suatu permasalahan tanpa penyelesaian, apalagi yang berkenaan dengan kemaslahatan orang banyak.

c. Niat Belajar Hanya Karena Allah
Dalam menuntut ilmu semestinya diniatkan hanya mengharapkan Ridho Allah semata. Pada dasarnya Allah Yang Memiliki Ilmu dan akan menganugerahkan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Karena tujuan ilmu itu sendiri adalah untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan untuk mencapai kebahagiaan di dunia maupun di akherat. Dalam sebuah hadits dinyatakan :


Artinya :
Dari Ibnu Umar , Rasulullah SAW bersabda : “ Barangsiapa belajar sebuah ilmu untuk selain Allah atau ingin bertujuan selain Allah maka bersiaplah ditempatkan di neraka ".
Dengan niat karena Allah, perjalanan kita dalam menuntut ilmu akan terhitung sebagai amal ibadah. Ini sesuai dengan sabda Nabi SAW yang menyatakan :


Artinya :
“ Barang siapa keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali “.
d. Hormat dan Ta’dhim kepada Guru.
Sebagaimana dikisahkan tentang Nabi Musa yang belajar kepada Nabi Khidir, terdapat adab seorang murid ( pencari ilmu ) terhadap gurunya. Walaupun Nabi Musa lebih tinggi derajatnya daripada Nabi Khidir tetapi beliau tetap hormat dan ta’dhim, hingga akhirnya Nabi Musa mendapatkan ilmu yang dicarinya.
4. Peradaban Makhluk Membaca.
Perintah membaca merupakan perintah yang paling berharga yang diberikan kepada umat manusia. Karena membaca merupakan jalan yang mengantarkan manusia mencapai derajat kesempurnaan. Sehingga tidak berlebihan bila dikatakan bahwa membaca adalah syarat utama guna membangun peradaban. Semakin luas kegiatan membaca semakin tinggi peradaban.
Manusia disamping sebagai abdillah juga sebagai khalifah fil ardh. Kedua fungsi tersebut adalah konsekuensi dari potensi keilmuan yang dianugerahkan Allah kepada manusia, sekaligus sebagai persyaratan mutlak bagi kesempurnaan pelaksanaan kedua status tersebut.
Dengan ilmu yang diajarkan oleh Allah, manusia memiliki kelebihan dari malaikat. Dengan ibadah yang didasari dengan ilmu yang benar, manusia menduduki tempat terhormat, sejajar bahkan dapat melebihi kedudukan umumnya malaikat.
Demikianlah perintah iqra’ sebagai syarat pertama dan utama bagi keberhasilan manusia dalam menciptakan peradaban yang lebih baik. Serta sebagai sarana mencapai tujuan hidup manusia, yaitu kebahagian di dunia dan di akherat.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1) Perintah untuk membaca dalam QS. Al-‘Alaq ( 96 ) : 1 – 5 ini disebut dua kali. Perintah pertama ditujukan kepada Rasulullah SAW, dan perintah kedua ditujukan kepada seluruh umatnya.
2) Arti asal kata iqra’ yang diterjemahkan dengan “ bacalah “ tidak mengharuskan adanya suatu teks tertulis yang dibaca, tidak pula harus diucapkan hingga terdengar oleh orang lain. Karenanya terdapat beraneka ragam arti dari kata tersebut antara lain : menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami,meneliti, mengetahui ciri-ciri dan sebagainya.
3) Membaca adalah sarana untuk belajar dan kunci ilmu pengetahuan
4) Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam belajar adalah :
a). Menyediakan sarana mencari ilmu.
b). Mendatangi sumber ilmu
c). Niat belajar karena Allah
d). Hormat dan ta’dhim kepada guru
5) Perintah iqra’ sebagai syarat pertama dan utama bagi keberhasilan manusia dalam menciptakan peradaban yang lebih baik. Serta sebagai sarana mencapai tujuan hidup manusia, yaitu kebahagian di dunia dan di akherat.
DAFTAR PUSTAKA

v Dr. Rohimin, M.Ag., Tafsir Tarbawi, Nusa Media, Yogyakarta, cetakan I ; 2008.
v Yusuf Qardhawi, Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, Gema Insani Press, Jakarta, cetakan I; 1998
v M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an : Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, Mizan, Bandung, cetakan I; 2007
v H. Mahrus Ali, terjemah Irsyadul Ibad karya Zainuddin Ibnu Abdul Aziz Al Malybari, Mutiara Ilmu, Surabaya
v Hamka, Tafsir Al-Azhar, Pustaka Ilmu, Jakarta.
v Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya.

0 komentar:

Poskan Komentar